Senin, 07 Mei 2012

MANAJEMEN KOMPONEN-KOMPONEN SEKOLAH (PENDIDIKAN

I
PEMBAHASAN

MANAJEMEN KOMPONEN-KOMPONEN
SEKOLAH (PENDIDIKAN
Manajemen sekolah (School management) merupakan faktor yang terpenting dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di sekolah yang keberhasilannya diukur oleh prestasi tamatan (out put), oleh karena itu dalam menjalankan kepemimpinan,  harus berpikir  “sistem” artinya dalam penyelenggaraan  pendidikan di sekolah subtansi-subtansi pendidikan disuatu sekolah atau manajemen berbasis sekolah (School Based Management) harus berfungsi optimal.
Agar dapat berjalan dengan baik dan benar-benar terintegrasi dalam suatu sistem kerja sama untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien hal yang paling penting dalam implementasi School Based Management adalah manajemen terhadapat komponen-komponen sekolah itu sendiri.
Komponen-komponen Manajemen Sekolah dalam School Based Management
Setiap satuan pendidikan perlu memperhatikan komponen-komponen Manajemen Sekolah. Dalam penerapan Manajemen Berbasis Sekolah beberapa komponen sekolah yang perlu dikelola yaitu kurikulum dan program pengajaran, tenaga kependidikan, kemuridan, sarana dan prasarana pendidikan, dan pengelolaan hubungan sekolah dan orang tua/wali murid (Mulyasa ,2002: 40).
Secara garis besar komponen pendidikan bisa diambil dari pengertian Mulyasa, 2002; 40, namun dapat juga diambil dari buku “Manajemen Pendidikan (sebuah pengantar bagi para calon guru)” karangan Suharno yaitu antara lain terdiri dari delapan komponen:
1.        Manajemen Kurikulum  dan program Pengajaran
2.         Manajemen Tenaga Pendidikan
3.         Manajemen Kesiswaan
4.         Manajemen Keuangan dan Pembiayaan
5.         Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
6.         Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
7.         Manajemen Layanan Khusus
8.         Manajemen Waktu
1.   Manajemen Kurikulum dan Program Pengajaran
Kurikulum dan program pengajaran merupakan pijakan dalam proses pendidikan yang diselenggarakan pada sebuah lembaga pendidikan, Perencanaan dan pengembangan kurikulum nasional telah dilakukan Departemen Pendidikan Nasional pada tingkat pusat. Akan tetapi sekolah juga bertugas dan berwenang mengembangkan kurikulum muatan lokal sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masyarakat setempat.[1]
Dalam manajemen berbasis sekolah di Indonesia untuk muatan lokal mengharuskan setiap satuan pendidikan diharapkan dapat mengembangkan dan memunculkan keunggulan program pendidikan tertentu sesuai dengan latar belakang tuntutan lingkungansosial masyarakat. Dengan otonomi sekolah dalam arti luas mempunyai fungsi untuk menghubungkan program-program sekolah dengan seluruh kehidupan peserta didik dan kebutuhan lingkungan sehingga setelah siswa menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan mereka siap pakai sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

2.   Manajemen Tenaga Kependidikan
Peningkatan produktivitas dan prestasi kerja dapat dilakukan dengan meningkatkan sumber daya manusia, Kepala Sekolah, Guru dan Karyawan dengan cara mengikut sertakan pada kegiatan-kegiatan yang menunjang pada kinerja seluruh unsur sekolah. Manajemen tenaga kependidikan (guru dan personil) mencakup[2] beberapa hal yaitu:
(1)   perencanaan pegawai,
(2)   pengadaan pegawai,
(3)   pembinaan dan pengembangan pegawai,
(4)   promosi dan mutasi,
(5)   pemberhentian pegawai,
(6)   kompensasi, dan
(7)   penilaian pegawai.
Hal ini menunjukkan, bahwa keberhasilan pengelolaan pendidikan pada sebuah sekolah apabila Kepala Sekolah memiliki kemampuan untuk menciptakan kondisi yang melibatkan pada semua unsur pengelola sekolah.

3.   Manajemen Kesiswaan
Salah satu tugas sekolah diawal tahun pelajaran baru adalah menata siswa. Manajemen kemuridan adalah penataan dan pengaturan kegiatan yang berhubungan dengan peserta didik (murid), awal pendaftaran sampai mereka lulus, tetapi bukan sekedar pencatatan data peserta didik, melainkan meliputi aspek lebih luas yang secara operasional dapat membantu upaya pertumbuhan murid melalui proses pendidikan di sekolah[3].
Meskipun Pencatatan sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan manajemen kemuridan, buku presensi murid, buku raport, daftar kenaikan kelas, buku mutasi murid, dan sebagainya. Manajemen kemuridan dimaksudkan bertujuan mengatur berbagai kegiatan pembelajaran di sekolah berjalan.dengan kondusif. 
Menurut Sutisna dalam Mulyasa (2002) ada tiga yaitu:
(1)     penerimaan murid baru,
(2)     kegiatan pelaporan kemajuan belajar murid, dan
(3)     bimbingan dan pembinaan disiplin murid.
Sedangkan tanggung jawab Kepala sekolah dalam mengelola bidang kemuridan[4] adalah:
a)       Kehadiran murid di sekolah dan masalah-masalah bidang kemuridan yang berhubungan dengan hal studi.
b)       Penerimaan, orientasi, klasifikasi, dan pembagian kelas murid dan pembagian program studi.
c)       Evaluasi dan pelaporan kemajuan belajar murid
d)       Program supervisi bagi murid yang mempunyai kelainan, seperti mengulang pengajaran (remid), perbaikan, dan pengajaran luar biasa
e)       Pengendalian kedisiplinan murid belajar di sekolah
f)        Program bimbingan dan penyuluhan bagi seluruh murid. 
g)       Program kesehatan dan keamanan murid belajar, terutama ketenangan belajar murid di kelas. 
h)       Penyesuaian pribadi, sosial, dan emosional murid.

4.   Manajemen Keuangan dan Pembiayaan
Keuangan merupakan sumber daya yang secara langsung dapat berpengaruh pada keefektifan dan efisiensi pengelolaan pendidikan yang diseleggarakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Manajerial kepala sekolah pada keuangan sangat dibutuhkan dalam penerapan Manajemen Berbasis Sekolah. Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menuntut kemampuan sekolah dalam merencanakan melaksanakan, dan mengevaluasi serta memepertanggungjawabkan penggunaan anggaran … pengelolaan dana secara transparan kepada masyarakat dan pemerintah (Mulyasa, 2002:47).
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) memberi kewenangan pada sekolah untuk menggali dan menggunakan sumber dana sesuai keperluan sekolah. Sumber dana dalam proses pendidikan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu:
(1)        pemerintah pusat dan atau pemerintah daerah,
(2)        orang tua/wali atau peserta didik, dan
(3)        masyarakat, baik mengikat maupun tidak mengikat.

5.   Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
Setiap satuan pendidikan tidak dapat melepaskan faktor sarana dan prasarana yang dapat dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, proses belajar dan mengajar. Manajemen sarana dan prasarana bertujuan dapat menciptakan kondisi yang menyenangkan baik guru maupun murid untuk berada di sekolah. Demikian pula tersedianya media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan materi pelajaran sangat diperlukan manjerian pengelolala pendidikan di satuan pendidikan. 

6.   Manajemen Hubungan Sekolah dengan Masyarakat 
Hubungan antara sekolah dengan orang tua/wali murid serta masyarakat pada hakekatnya merupakan suatu sarana sangat berperan dalam membina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi murid di sekolah. Sekolah dan orang tua/wali murid memiliki hubungan yang sangat erat dalam mencapai tujuan sekolah atau pendidikan secara efektif dan efisien. Gaffar dalam Mulyasa menyatakan, bahwa hubungan sekolah dengan orang tua/wali murid bertujuan antara lain:
(1)     memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan murid;
(2)     memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat; dan
(3)     menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah (Mulyasa, 2002:50).
Pada konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), manajemen hubungan sekolah dengan orang tua wali murid diharapkan berjalan dengan baik. Hubungan yang harmonis membuat masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memajukan sekolah. Penciptaan hubungan dan kerja sama yang harmonis, apabila masyarakat mengetahui dan memiliki gambaran yang jelas tentang sekolah. Gambaran yang jelas dapat diinformasikan kepada masyarakat melalui laporan kepada orang tua wali murid, kunjungan ke sekolah, kunjungan ke rumah murid, penjelasan dari staf sekolah, dan laporan tahunan sekolah.
Melalui hubungan yang harmonis diharapkan tercapai tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat, yaitu proses pendidikan terlaksana secara produktif, efektif, dan efisien sehingga menghasilkan lulusan yang produktif dan berkulitas. Lulusan yang berkualitas akan terlihat dari penguasaan/kompetensi murid tentang ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat dijadikan bekal ketika terjun di tengah-tengah masyarakat (out come).
7.   Manajemen Layanan Khusus
Manajemen layanan khusus itu meliputi perpustakaan, kesehatan, dan keamanan sekolah.
1)      Perpustakaan
Perpustakaan yang dikelola dengan baik memungkinkan peserta didik untuk lebih mengembangkan dan mendalami pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya didalam kelas secara mandiri, dan juga dapat mengajar dengan metode bervariasi, misalnya belajar individual.
2)      Kesehatan
Menyediakan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) yang mana badan kesehatan ini akan membantu untuk membangun mewujudkan sumberdaya manusia yg berpengetahuan dan sehat baik itu sehat jasmani dan rohani para peserta didik.
3)      Keamanan
Jelas harus adanya keamanan karena ini akan menciptakan rasa aman dan nyaman untuk para peserta didik dan para substansi-substansi sekolah lainnya.

8.   Manajemen Waktu
Jelas dengan semboyan waktu adalah sesuatu yang berharga tanpa mengetahui berapa harga waktu itu dijual. Oleh sebab itu disiplin waktu sangat dibutuhkan di dalam sekolah. Baik itu penerapan pada substansi-substansi agar para peserta didik dapat menerima contoh baik dalam pemanfaatan waktu.


II
KESIMPULAN
Berdasarkan Pembahasan diatas dapat disimpulkan beberapa kesimpulan:
Perekat organisasi pendidikan adalah kepercayaan pimpinan kepada bawahan, keakraban/kebersamaan, dan kejujuran dan tanggung jawab. Kepemimpinan sangat berpengaruh dalam proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah, agar pengaruh yang timbul dapat meningkatkan kinerja personil secara optimal. Maka pemimpin harus memiliki wawasan dan kemampuan dalam melaksanakan gaya kepemimpinan
Kemampuan pemimpin dalam memerankan gaya kepemimpinan yang bertumpu kepada partisipasi aktif semua personil sekolah akan memunculkan keberhasilan seorang pemimpin. Bahwa tujuannya antara lain adalah menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, memperkaya ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
Budaya organisasi di lembaga pendidikan adalah pemaknaan bersama seluruh anggota organisasi di suatu lembaga pendidikan yang berkaitan dengan nilai, keyakinan, tradisi dan cara berpikir unik yang dianutnya dan tampak dalam perilaku mereka, sehingga membedakan antara lembaga pendidikan dengan lembaga pendidikan lainnya. Pemimpin harus memiliki pemahaman tentang konsep sistem (berpikir secara sistematik) dalam memahami suatu sekolah sebagai suatu kesatuan yang utuh. Pemimpin harus memahami wawasan jauh kedepan agar tantangan masadepan telah menjadi program dalam penyelenggaraan pendidikan.
Konsentrasi pemimpin terhadap kinerja personil pada akhirnya sasaran yang hendak dicapai adalah peningkatan prestasi sekolah pada umumnya dapat tercapai adalah peningkatan prestasi sekolah pada umumnya dapat tercapai dan pada khususnya menghasilkan tamatan yang berkualitas.
(Blog ini Bukan untuk di Copy Paste (kelesuan berfikir) tapi untuk penambahan ilmu pengetahuan)

[1] …dan sosial budaya yang mendukung pembangunan lokal sehingga peserta didik tidak terlepas dari akar sosial budaya lingkungan (Mulyasa, 2002:40).
[2] Mulyasa, 2002:42
[3] Mulyasa, 2002:46
[4] Mulyasa, 2002:46

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar